DAERAHLEGISLATIF

Sebut Warga Belum Merdeka, Febriyanto Mardain: Kerusakan Lingkungan di Tambang Hulawa Semakin Parah

WARTA NEWS – Di usianya yang ke-75 tahun, kemerdekaan Republik Indonesia nampaknya belum sepenuhnya dirasakan oleh masyarakat. Sejatinya kata merdeka adalah terbebas dari segala bentuk penindasan dan kesemena-menangan, namun tidak dengan sebahagian masyarakatnya. Seperti halnya masyarakat penambang emas di Kabupaten Pohuwato.

Demikian garis besar arti kemerdekaan yang disampaikan oleh salah satu Anggota Legislatif Pohuwato, Febriyanto Mardain. Aleg DPRD dari Partai PPP ini secara gamblang mengatakan bahwa, masyarakat penambang yang ada di Kabupaten Pohuwato, khususnya yang berada di wilayah pertambangan Gunung Pani, belum sepenuhnya merdeka.

“Kita semua harus jujur mengakui bahwa, arti kemerdekaan itu belum sepenuhnya dirasakan oleh masyarakat, khususnya masyarakat penambang. Hari ini, mereka masih dibuat tidak berdaya oleh keberadaan pelaku usaha yang memiliki alat berat eksavator. Sementara, kerusakan lingkungan yang terjadi di lokasi pertambangan Gunung Pani, semakin parah dan menciptakan kerusakan lingkungan yang luar biasa besar,” ungkap Febriyanto usai pelaksanaan pembentangan bendera merah putih di lokasi tambang Gunung Pani, Senin (17/8/2020).

“Dari 100 persen, 70 persen adalah dikuasai oleh pelaku usaha yang memiki alat berat excavator. Sehingga, keberpihakan kepada masyarakat penambang yang sebenarnya masih sangat kecil,” jelas Febriyanto.

Febriyanto menambahkan, jika hal ini terus dibiarkan, maka dapat dipastikan, kerusakan lingkungan yang masif akan menimbulkan bencana besar bagi warga masyarakat di Kabupaten Pohuwato, yang disebabkan pencemaran lingkungan dari aktifitas pertambangan liar, cepat atau lambat pasti akan terjadi.

Foto Drone, kubangan bekas aktifitas pertambangan di Desa Hulawa.

Hal senada juga disampaikan oleh Kepala Desa Karya Indah, Kecamatan Buntulia, Ram Paana. “Pemerintah desa, kecamatan, bahkan kabupaten, sudah berusaha untuk bisa membuat masyarakat mandiri. Namun sampai saat ini, masyarakat penambang khususnya, belum benar-benar merdeka. Mereka masih terjajah di tanah sendiri, oleh segelintir orang yang hanya memanfaatkan keadaan yang ada,” kata Kades.

Berdasarkan pantauan sejumlah awak media, pengoperasian alat berat di kawasan pertambangan yang dilakukan oleh sejumlah pelaku usaha sebagaimana disebutkan, tidak terlihat. Namun, bukti-bukti pengrusakan lingkungan yang belum lama dilakukan akibat aktifitas alat berat excavator di kawasan Botu Dulanga, Desa Hulawa, khususnya di pinggiran sungai, sangat terlihat jelas. (WN/Tim)

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
39
HASTAG

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close